Montag, 27. April 2015

Mega-City Paling Berbahaya di Dunia


Ternyata gempa yang melanda Nepal beberapa hari silam sudah di"ramal"kan oleh para ahlinya. Judul artikel mereka "10 Mega-City Paling Berbahaya di Dunia".

Gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api. Dua miliar manusia berada dalam ancaman langsung 3 bencana alam tersebut. Bahaya paling besar mengintai penduduk kota-kota besar tertentu. Dalam pada itu, faktor yang paling punya peran utama membuat korban jiwa dalam bencana alam adalah kemiskinan.

Sejak 50 tahun terakhir kuantitas bencana alam di dunia semakin meningkat. Dua kali lebih banyak daripada tahun 1980-an dan 7 kali lebih kerap dibandingkan dengan tahun 1950-an. Angka tersebut merupakan hasil dari riset yang dilakukan CRED (Centre for Research on the Epidemology of Disasters) dengan kantor pusat di Brussel, ibukota Belgia.

Tahun 1990-an jumlah kematian manusia akibat bencana alam rata-rata 43.000 jiwa setiap tahunnya. Antara tahun 2000 sampai 2009 jumlah korban tewas telah mencapai 78.000 orang/tahun. Di kuartal pertama tahun 2010 saja lebih dari 300.000 manusia tewas akibat banjir bandang (Pakistan), tanah longsor (RRC), dan gempa bumi (Haiti). Mayoritas korban berada di zona yang oleh para pakar bencana disebut sebagai “Agglomeration” alias mega-city. Demikian istilah yang digunakan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dalam laporannya “Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction”.

Faktor Utama Risiko Megacity
Yang paling berbahaya adalah megacity alias kota besar tanpa tata kota, miskin infrastruktur, dan amburadulnya administrasi pemerintah kota. Laporan itu menyebut 3 faktor utama risiko megacity, yaitu pengembangan kota yang tak terkontrol, kemiskinan, dan kerusakan dan/atau perusakan lingkungan hdiup. Semakin cepat sebuah kota besar berkembang, kian menghebat pula bahaya akibat bencana alam. Lebih dari 97% korban tewas berasal dari negara berkembang dan miskin. Wilayah yang dihuni penduduk miskin adalah daerah berbahaya karena longsor dan banjir. Bukan alam yang membunuh orang, melainkan kondisi kehidupan yang miskin materi, demikian ujar Dr.Kathleen Tierney, pakar bencana alam dari University of Colorado in Boulder. Bukan kuatnya gempa yang menentukan jumlah korban, tetapi bagaimana perilaku manusia yang tinggal di daerah berbahaya itu.

Ucapan Dr. Tierney terbukti manakala kita membandingkan jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Haiti dan Selandia Baru. Kejadiannya hanya selang beberapa bulan. Kedua gempa sama kuat dan menerpa daerah padat penduduk. Jumlah korban tewas di Haiti ratusan ribu orang. Di Selandia Baru? Nihil.

Dalam laporan “Global Earthquake Safety Initiative” PBB mempublikasi 10 megacity paling berbahaya di dunia pada saat terjadi bencana alam. Kota besar paling berbahaya adalah Kathmandu, perkiraan korban tewas saat gempa: 70.000 orang. Kota besar kedua paling berbahaya adalah Istanbul (prediksi korban tewas: 55.000 orang). Daftar lengkap 10 kota besar paling berbahaya di muka bumi adalah sebagai berikut:

1. Kathmandu (Nepal)
2. Istanbul (Turki)
3. New Delhi (India)
4. Manila (Pilipina)
5. Islamabad (Pakistan)
6. Izmir (Turki)
7. Jakarta (Indonesia)
8. Tokyo (Jepang)
9. Mumbai (India)
10. Bandung (Indonesia)


Segala sesuatu mengenai “Global Earthquake Safety Initiative” dapat dilihat langsung di sini.

Keine Kommentare: