Kematian
itu sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah perpindahan dari satu dimensi
ke dimensi lainnya. Lebih tepat disebut sebagai peralihan. Melebihi
kecepatan cahaya dan agar sanggup melewati lubang hitam (blackhole),
itulah perjalanan setiap orang ke alam baka, ke dimensi lebih tinggi.
Karena sebenarnya yang mati adalah badan kasar saja. “Orang sadar,
tetapi tidak mau tahu. Orang membantah kelahiran kembali juga tidak
masalah, ibarat gravitasi bumi jika tidak percaya, coba saja naik ke
lantai 5 kemudian jatuh, nanti pasti jatuh ke bawah. Hukum sebab
akibat pun demikian, kita menanam padi tidak mungkin tumbuh jagung,
padi ya padi. Itulah namanya keadilan semesta, tidak ada kaitannya
orang percaya atau tidak percaya,” jelas pria yang juga merupakan
dosen di Ubaya tersebut. “Lahir dan kematian setiap orang itu
sudah deterministik (takdir). Di antara 2 waktu itu terjadilah
berbagai kemungkinan (nasib) yang berealitas dalam bermacam dunia
parallel. Kita saat ini sedang berada dan menjalani salah satu
kemungkinan tersebut. Sehelai daun tertentu yang jatuh pun sudah
terpastikan ribuan tahun silam”, lanjut Anton. Hal-hal
deterministik yang sudah terpastikan sebelumnya tersebut telah
dibuktikan dalam proyek Dimensi Psi (Deviation of Variance, 11
September 2001) yang diketuai oleh Prof. Roger Nelson dari Princeton
University
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen