Mittwoch, 6. Mai 2015

Bahasa Cinta

Dari bagaimana pasangan berbicara satu sama lain dapat diketahui, apakah hubungan mereka akan langgeng atau tidak. Semakin mirip gaya berbicara, kian besar kemungkinan pasangan akan hidup dalam biduk rumah tangga.

Nuansa hari yang sama akan cenderung saling tarik-menarik, pepatah rakyat ini benar adanya: semakin 2 orang mirip dalam sifat alami, pandangan hidup, dan raut wajah mereka, kian bagus fungsi keharmonisan dalam berpasangan. Namun faktor-faktor tersebut bukan kebenaran seluruhnya. Penting juga kesamaan gaya bicara keduanya. Ini dikukuhkan oleh sebuah studi yang dimuat di “Psychological Science“. Manusia yang punya kemiripan gaya bicara kemungkinan besar akan bisa hidup bersama dalam tempo lama.

Para periset berkonsentrasi pada apa yang disebut sebagai kata-kata fungsi. Ini bukan substantif atau kata kerja, melainkan tipe kata yang sulit didefinisikan, yang senantiasa kita gunakan dalam pembicaraan. Kata atau ungkapan itu biasanya pendek-pendek saja. Mereka yang harmonis akan mampu menafsirkan maksud yang diucapkan, seperti ini, itu, sesuatu, akan menjadi, dan sebangsanya. Orang lain bakal sulit memahaminya.

Kata-kata fungsi itu tinggi nilai sosialnya dan menuntut kemampuan sosial pula, demikian ujar salah satu periset, Dr.James Pennebaker dari University of Texas di Austin. Jika orang sudah mendengar sesuatu info yang dibacakan, maka orang akan paham topiknya beberapa saat kemudian, dibandingkan mereka yang sama sekali tidak terlibat dari awal.

Kebersamaan Dapat Menumbuhkan Simpati
Dua tes berbantuan komputer menyamakan gaya bicara berbagai pasangan. Dalam percobaan pertama mahasiswa diminta bicara selama 4 menit mengenai kencan mereka. Hampir semua pasangan berbicara tematik yang sama. Seperti: kamu ambil apa, dari mana asalmu, gimana pendapatmu mengenai kampus kita.
 
Sepertinya pembicaraan responden itu sama, namun analisis teks menunjukkan perbedaan yang jelas. Pasangan yang punya kemiripan dalam gaya berbicara, ternyata melanjutkan kencan perdana itu dengan kencan berikutnya, dibandingkan dengan mereka yang gaya ngomongnya tidak sama.

Percobaan kedua mengamati online-chat antara pasangan selama lebih dari 10 hari. Hampir 80% pasangan, yang gaya ungkapan tulisannya mirip, 3 bulan kemudian masih asyik ber chatting ria. Ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan 54% pasangan yang gaya tulisannya tidak mirip. Apa yang diucapkan atau ditulis responden itu penting. Tetapi bagaimana cara mereke mengungkapkannya, itulah yang jauh lebih berarti. Secara tidak sadar setiap manusia akan mencari orang yang mirip atau sama dengan mereka.

Keine Kommentare: